KEBUDAYAAN JAWA TENGAH
Oleh:
1.
Candra Ade Irawan (11217290)
2.
Dwi Aulia Rahma (11217811)
3.
Karina Permata Nurfianti (13217139)
4.
Nabila Meiliana Putri (14217338)
5.
Rumman (15217418)
6.
Shahira Sandra NM (15217619)
FAKULTAS EKONOMI JURUSAN MANAJEMEN
UNIVERSITAS GUNADARMA
2017
SUKU JAWA
Suku Jawa merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah
Istimewa Yogyakarta.
Setidaknya 41,7% penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa.
Sebelumnya suku Jawa berjumlah 47,05% pada tahun 1930 yang diadakan oleh
pemerintahan kolonial Belanda pada waktu itu. Penurunan ini terjadi karena
banyaknya orang Jawa yang menjadi bagian dari etnis setempat di beberapa daerah
di Indonesia.[3]
Selain di ketiga provinsi tersebut, suku Jawa banyak bermukim di Lampung, Jakarta, Sumatera Utara, Riau,
Sumatera
Selatan, Banten dan Kalimantan Timur. Di Jawa Barat mereka banyak ditemukan di Kabupaten
Indramayu, Kabupaten Cirebon, dan Kota Cirebon. Suku Jawa juga memiliki sub-suku,
seperti Suku Osing, Orang Samin, Suku Tengger, dan lain-lain. Selain itu, suku Jawa
ada pula yang berada di negara Suriname, Amerika Selatan karena pada masa kolonial Belanda suku ini dibawa ke sana sebagai pekerja
dan kini suku Jawa di sana dikenal sebagai Jawa Suriname.
1.
Adat istiadat Suku Jawa saat wanita
hamil
Pasti semua orang menggap bahwa
ketika seorang perempuan hamil itu harus benar-benar dijaga supaya tidak akan
terjadi hal-hal yang buruk menimpa dan anaknya.
Didalam Adat istiadat suku jawapun
mempunyai kepercayaan-kepercayaan seperti
ini. Ketika seorang perempuan sedang hamil/mengandung bayi didalam
perutnya, didalam suku jawa seorang perempuan yang sedang mengandung itu akan
benar-benar yang namanya dijaga, supaya tidak akan terjadi hal yang buruk
menimpa perempuan dan calon anaknya itu. Untuk mengenai hal ini, biasanya
didalam penduduk suku jawa akan menyelenggarakan acara semacam
selamatan-selamatan.
Mengadakannya acara selamatan ini
dilakukan selama dua kali selama masih pada masa-masa mengandung/kehamilan,
pertama adanya acara selametan ini ketika usia sang bayi didalam kandungan
mencapai tiga bulan, dan acara selamatan yang kedua ini dilakukan ketika usia sang
bayi sudah mencapai umur 7 bulan. Ketika setiap melakukan selamatan-selamatan
itu ada namanya tersendiri, yaitu selamatan-selamatan yang pertama itu diberi
dengan sebutan nama “Neloni”, dan selamatan yang kedua atau yang terakhir ini
disebut dengan sebutan nama “Mitoni”.
Ketika kedua selamatan itu
dijalankan, maka akan dibuatnya beberapa jenis makanan untuk dibagikan kepada
kerabat-kerabat terdekat, atau diberikan kepada tetangga-tetangga. Makanan-makanan
yang dibuat itu seperti jenang blowok, apa jenang blowok itu? Jenang blowok itu
adalah kue yang dibuat dari tepung terigu dengan dilengkapi oleh bungkusan daun
nangka. Selain dari jenang blowok juga ada makanan yang namanya trancam,
trancam itu adalah makanan yang dibuat dari potongan-potongan timun, kacang
toro, tempe goreng, dan setelah itu dicampur dengan parutan kelapa. Jenis-jenis
makanan yang telah disebutkan pada tulisan diatas ini memang harus dibuat
ketika adanya acara seperti selametan ketika wanita hamil dan tidak boleh yang
namanya ditinggalkan. Ada salah satu ritual yang harus dilakukan untuk ibu
hamil, ritual untuk ibu hamil itu disebut dengan tingkeban (Upacara kehamilan 7
bulan). Ketika berjalannya ritual ini, perempuan yang sedang mengandung itu
akan dimandikan dengan air yang dicampur bunga-bunga. Selain itu, kain yang
akan digunakan sebagai kemben pun harus 7 jumlahnya, dan digunakan secara
bergantian ketika acara tingkeban berlangsung.
Apabila bayi yang sedang dikandung
oleh perempuan itu sudah lahir, didalam suku Jawa juga mempunyai ritual
(Selamatan) khusus untuk menyambutnya lahirnya si dedek bayi. Adanya ritual
(Selametan) ini berfungsi untuk memberi keselamatan pada dedek bayi yang baru
lahir, dan menjaga dedek bayi dari kejadian-kejadian butuk yang akan
menimpanya.
2.
Upacara
Sekaten
Didalam suku jawa adanya
upacara sekaten ini merupakan bentuk rasa hormat masyarakat Jawa kepada Baginda
Nabi Rasulullah SAW yang mana Rasulullah SAW ini sudah menyebarkan agama yang mulia
(Islam) di tanah Jawa ini. Selain itu, upacara sekaten juga merupakan upacara
peringatan kelahiran Rasulullah SAW yang mana upacara sekaten ini diadakan
selama 7 hari. Pada saat ini upacara sekaten ini masih dilestarikan di kawasan
kerajaan-kerajaan, seperti di Yogyakarta dan Kota Solo. Bahkan ketika upacara
sekaten dimulai, dari pihak kerajaan keraton didaerah Surakarta ini
mengeluarkan 2 jenis alat musik gamelan, yaitu gamelan Guntur Sari, dan gamelan
Kyai Gunturmadu.
3.
Upacara
Kenduren
Sesaji identik dengan upacara
adat suku jawa ini, yaitu upacara kenduren atau lebih dikenal oleh orang-orang sebagai
sebutan nama selamatan. Adanya upacara kenduren ini meruapakan hasil
penggabungan budaya Jawa dan agama Islam di pada abad 16 masehi. Pada awalnya,
upacara kenduren ini menggunakan doa-doa agama budha atau menggunakan doa-doa
agama hindu. Kemudian setelah mengalami penggabungan dengan agama Islam,
digantikanlah doa-doa itu menjadi doa-doa yang biasa digunakan di agama Islam. Begitu
juga dengan sesaji yang dulu biasanya digunakan ketika adanya upacara kenduren
ini, namun pada saat ini sesaji-sesaji itu tidak di gunakan lagi. Untuk saat
ini upacara kenduren ini hanya ditujukan untuk makan-makan bersama, itupun
sebagai tanda syukur kepada Allah SWT, bukan untuk persembahan-persembahan
seperti budaya Kejawen pada zaman dulu.
4.
Upacara
Pernikahan
Pernikahan tradisional adat
Jawa ini sangat dikenal dengan kesuciannya, bahkan sampai saat ini pernikahan
tradisional adat Jawa masih dilestarikan.
Dibawah ini akan ada
urutan-urutan pernikahan tradisional adat Jawa:
1.Siraman.
Upacara Siraman mengandung
makna memandikan calon mempelai yang disertai dengan niat membersihkan diri
agar menjadi bersih dan suci lahir dan batin.
Urutan tahapannya yaitu calon
pengantin memohon doa restu kepada kedua orangtuanya, kemudian mereka (calon
pengantin pria dan wanita) duduk di tikar pandan, lalu disiram oleh pinisepuh,
orang tua dan orang lain yang telah ditunjuk.
Terakhir, calon pengantin
disiram air kendi oleh ibu bapaknya sambil berkata “Niat Ingsun ora mecah kendi
nanging mecah pamore anakku wadon” dan kendi kosongnya dipecahkan ke lantai.
2.Ngerik.
Calon pengantin dikerik atau dialub-alubi.
Rambut serta bulu-bulu halus yang tumbuh diluar cengkorongan paes mesti di hilangkan.
Cara mengeriknya dengan memakai pisau cukur dengan cara hati-hati. Awal mula
dikerik rambut halus yang tumbuh diantara penuggul serta pengapit, lalu rambut
dibagian pada pengapit serta penitis, pada penitis dengan godheg. Sisi di
seputar alis juga mesti dikerik supaya terlihat bersih serta untuk membereskan
bentuk alis hingga terlihat lebih indah. Tak lupa bulu-bulu halus yang tumbuh
diatas bibir seputar pipi serta tengkuk’
3.Midodareni.
Upacara adat Midodaren
berarti menjadikan sang mempelai wanita secantik Dewi Widodari. Orang tua
mempelai wanita akan memberinya makan untuk terakhir kalinya, karena mulai
besok ia akan menjadi tanggung jawab sang suami.
4.Serah-serahan.
menyerahkan kebutuhan dari
ujung rambut sampai ujung kaki yang disiapkan pengantin pria
5. Nyantri atau Nyatrik
Upacara penyerahan dan
penerimaan dengan ditandai datangnya calon mempelai pria berserta pengiringnya.
Dalam prosesi acara
pernikahan ini calon mempelai pria mohon diijabkan, atau jika acara ijab
diadakan besok, kesempatan ini dimanfaatkan sebagai pertemuan perkenalan dengan
sanak saudara terdekat di tempat penganttn pria.
Jika ada kakak wanita yang
dilangkahi, acara penting lainnya yakni pemberian restu dan hadiah yang
disesuaikan kemampuan pengantin dalam Plangkahan.
Lalu acara puncak:
a. Upacara Ijab Qobul
Sebagai prosesi pertama pada
puncak resepsi ini adalah pelaksanaan ijab qobul yang melibatkan pihak penghulu
dari KUA. Setelah acara ini berjalan dengan lancar dan sah, maka kedua
pengantin telah resmi menjadi sepasang suami istri.
b. Upacara Panggih
Setelah upacara ijab qobul
selesai, selanjutnya dilanjutkan dengan upacara panggih yang meliputi:
• Liron kembar mayang atau
saling menukar kembang mayang dengan arti dan tujuan bersatunya cipta, rasa dan
karsa demi kebahagiaan dan keselamatan.
• Gantal atau lempar sirih
dengan harapan semoga semua godaan hilang terkena lemparan tersebut.
• Ngidak endhog atau mempelai
pria menginjak telur ayam lalu dibersihkan atau dicuci kakinya oleh mempelai
wanita sebagai lambang seksual kedua pengantin telah pecah pamornya.
• Minum air degan (air buah
kelapa) yang menjadi simbol air hidup, air suci, air mani dan dilanjutkan
dengan di-kepyok bunga warna-warni dengan harapan keluarga mereka bisa
berkembang segala-segalanya dan bahagia lahir batin.
• Masuk ke pasangan mempunyai
arti pengantin menjadi pasangan hidup siap berkarya melaksanakan kewajiban.
• Sindur yakni menyampirkan
kain (sindur) ke pundak mempelai dan menuntun mempelai pengantin ke kursi
pelaminan dengan harapan keduanya pantang menyerah dan siap menghadapi segala
tantangan hidup.
Setelah upacara panggih,
kedua pengantin diantar duduk di sasana riengga. Setelah itu, acara pun
dilanjutkan.
• Timbangan atau kedua
mempelai duduk di pangkuan ayah mempelai wanita sebagai lambang sang ayah
mengukur keseimbangan masing-masing mempelai.
• Kacar-kucur dilaksanakan
dengan cara mempelai pria mengucurkan penghasilan kepada mempelai wanita berupa
uang receh beserta kelengkapannya. Lambang bahwa kaum pria bertanggung jawab
memberi nafkah kepada keluarga.
• Dulangan atau kedua
pengantin saling menyuapi. Mengandung kiasan laku perpaduan kasih pasangan pria
dan wanita (simbol seksual). Ada juga yang memaknai lain, yakni tutur
adilinuwih (seribu nasihat yang adiluhung) disimbolkan dengan sembilan tumpeng.
5.
Upacara
Tedhak Sinten
Tedak siten ini adalah
selamatan, yang mana didalam kebudayaan adat Jawa harus mengadakan tedak siten.
Selamatan ini dimulai dari si bayi sudah mulai bisa belajar berjalan. Di
beberapa bagian kawasan lain yang berada di Negara Indonesia mengenal tradisi
ini dengan sebutan nama turun tanah. Dalam upacara tedak siten ini tidak ada
maksud tujuan lain/tujuan yang
berkaitan dengan hal-hal mistik. Upacara tedak siten ini tujuannya hanya untuk
mengungkapka rasa syukur kepada sang pecipta, karena Allah telah memberikan
nikmat kesehatan, dan nikmat kesempurnaan fisik pada sang bayi.
6.
Upacara
Kematian
Apabila ada salah satu penduduk suku Jawa
ada yang meninggal, ritual ada istiadat jawa pun tidak akan lepas untuk mengirinya.
Yang dimaksud dengan ritual ini adalah supaya orang yang meninggal dunia dapat
mendapatkan tempat yang terbaik di akhirat nanti. Ritual (Selamatan). Biasanya
sebelum jenazah dibawa ke pemakaman itu ada ritual-ritul khusus yang dilakukan
oleh seluruh pihak keluarga si jenazah tersebut. Ritual yang biasa diakukan ini
adalah brobosan namanya, yang mana brobosan ini melintas di bawah mayat yang
telah diatas tandu dengan cara berjongkok. Sesudah melakukan brobosan, ritual
adat istiadat suku Jawa pun belum selesai. Ritual ini dinamakan sebagai istilah
sebutan Selamatan. Selamatan orang meninggal ini dilakukan selama tujuh hari
secara berturut-turut, dan acara salamatan ini dilakukan ketika malam hari
sesudah solat maghrib atau sesudah solat isya.
PERCAKAPAN WAWANCARA:
Pewawancara: selamat siang ibu
Narasumber: iya nak
Pewawancara: kami ingin mewawancarai ibu sebagai seorang yang berketurunan Jawa. Ibu pasti tau tentang adat pernikahan jawa, bisa diceritakan bu adat pernikahan jawa seperti apa?
Narasumber: sebenarnya adat pernikahan Jawa itu terkenal dengan adat yang lumayan rumit ya, karna terdiri dari banyak sekali step untuk menuju pernikahan
Pewawancara: bisa diceritakan bu salah satu hal yang wajib dilakukan dalam adat pernikahan Jawa?
Narasumber: ada tradisi Injak Telor, yaitu pengantin menginjak telur. Telur dimaknai sebagai harapan agar pengantin memiliki keturunan yang merupakan tanda cinta kasih berdua. Setelah menginjak telur, pengantin wanita akan membasuh kaki pengantin pria yang merupakan lambang kesetiaan seorang istri pada suaminya.
Pewawancara: kenapa orang Jawa tetap melaksanakan tradisi pernikahan tersebut? Bukan kah dengan banyaknya tradisi memakan banyak waktu dan materi? Dan juga melelahkan?
Narasumber: tidak, malah kami sebagai orang Jawa senang dengan banyak tradisi tersebut. Tradisinya kan juga bukan sembarangan semuanya kan ada maknanya, jadi ikhlas, Insyaallah diberkahi Gusti Allah.
Pewawancara: apakah sekarang masih banyak orang-orang jawa yang tetap melaksanakan adat tersebut?
Narasumber: wah masih banyak, karna kami percaya akan berkah yang mengalir setelahnya
Pewawancara: biasanya siapa saja bu yang bisa melaksanakan pernikahan dengan adat jawa tersebut?
Narasumber: biasanya mempelai wanita yang mempunyai keturunan jawa akan melaksanakan pernikahan adat jawa. Tapi itu juga tidak harus, terserah kepada masing-masing anggota
Pewawancara: baiklah. Terimakasih ibu atas waktu dan informasinya yang sangat berharga

Tidak ada komentar:
Posting Komentar