A. Cerpen Cinta Kepada Lawan Jenis
Pacarku, Sahabatku
“Lo dapet kelas apa Di?” tanya gue pada Aldi.
Aldi adalah sahabat Thasya sejak di bangku Sekolah Dasar, bahkan sejak kelas
satu. “IPS 3, lo?” jawab Aldi dengan dingin. “Yaelah lo dari SD gapernah
berubah ya. Kita udah SMA woi! Pantes ya dari dulu gapunya pacar” jawab Thasya
sambil memasang muka mengejek. “Gue nanya malah ngatain” kata Aldi sambil
memasang muka dingin, “Gue dapet IPS 2, tenang-tenang kelas kita sebelahan.
Jadi kalo kangen deket” jawab Thasya sambil terus memasang muka mengejek.
Hari
ini adalah ketiga Thasya dan Aldi masuk SMA di tahun ajaran baru. Dan, lagi-lagi
Thasya dan Aldi berada di satu sekolah yang sama . “Di gue belum sarapan masa,
lupa” tiba-tiba Thasya berhenti ditengah jalan menuju kelas . “Lah terus? Gue
harus jungkir balik gitu?” jawab Aldi “Tau ah! Gue mau masuk kelas aja!” Thasya
pun langsung memasuki kelas untuk
mencari tempat duduk yang kosong.
“Sya,
dicariin tuh. Cogan anaknya,” teriak Rena pada Thasya yang sedang membaca
novel, Thaysa sudah mengenal beberapa murid sekelas yang kebetulan dari SMP
yang sama. Saat keluar dari kelas Thasya langsung memasang wajah menyebalkan “Mau
apa? Kangen ya lo sama gue? Iya gue tau gue ngangenin kok” teriak Thasya yang
menyebabkan beberapa siswi menoleh dan berbisik satu sama lain, bilang Thasya
beruntung karena Aldi termasuk dalam golongan ‘cogan’
“Belum makan aja suaranya gini, apalagi udah
makan. Nih buat lo” Aldi pun menyerahkan makanan yang tadi ia beli dikantin
setelah Thasya masuk kekelas, “Wah makasih loh DI! Emang ya lo tuh sahabat rasa
pacar,” Thasya pun langsung mengambil roti dan susu cokelat yang diberi Aldi.
Thasya
berdiri di pinggir trotoar sambil melihat jam berkali-kali. Berharap Ayahnya
segera datang menjemput, tapi Thasya malah mendapatkan pesan singkat dari Ayahnya
yang mengharuskan Thasya pulang sendiri. Saat Thasya sedang berjalan ke tempat
yang lebih mudah mendapat angkutan umum, seseorang dengan ninja hitam mendekat
“Princess masa jalan kaki,” Thasya sudah sangat hafal dengan pemilik suara
tersebut. “Apa banget si Di, Ayah gue gabisa jemput katanya. Jadi gue pulang
sendiri,” dengan muka merah karena panas terik matahari yang menyengat.
“Kita
mau kemana si Di?” tanya Thasya yang sudah duduk dibelakang motor Aldi karena
Aldi memaksanya untuk pulang bersama, “Udah si diem aja dulu,” jawab Aldi
singkat. Setelah lima belas menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di taman
yang berada tidak jauh dari rumah Thasya, “Maaf ya Sya, gue anterin sampe sini
aja. Gue lupa gue ada urusan penting” kata Aldi dengan muka ciri khasnya yang
datar.
“Dasar
Aldi nyebelin! Ini mah ganiat nganterin gue pulang! Udah diturunin ditaman,
mukanya ga bersalah lagi,” cibir Thasya. Thasya pun dengan berat hati berjalan
kaki untuk sampai kerumah, tapi ditengah perjalanan seorang anak kecil menghampirinya
dengan membawa bunga mawar favorit nya.
“Kak
ini buat kaka.”
“Eh?
Buat gue?”
“Iya
buat kaka.”
Thasya
yang kebingungan pun hanya mengucapkan terima kasih. Tetapi, beberapa detik
setelahnya anak lain juga membawakan bunga mawar yang diberikan kepadanya.
Setelah bingung dengan sepuluh anak yang datang padanya dan tiba-tiba
memberikan masing-masing satu tangkai bunga mawar, Thasya berjalan sambil kebingugan.
Setelah
sampai dipagar rumah, Thasya mematung dengan pipi bersemu merah. Ia menemukan
Aldi di taman depan rumahnya yang sudah dihias sedemikian rupa. “Di lo ngapain?
Katanya tadi ada urusan?” tanya Thasya sambil berjalan mendekati Aldi di taman
rumahnya.
“Oke
sekarang gue jelasin. Pertama, gue bohong tentang gue ada urusan. Kedua, pasti
lo bingung kan sama bunga yang dikasih sama anak-anak pas lo jalan tadi? Itu
dari gue. Ketiga, Ayah lo gajemput emang sengaja biar lo pulang sama gue. Dan
terakhir, ini bukan jawaban, penjelasan, atau jawaban. Ini perintah, mulai
sekarang lo jadi pacar gue.”
Aldi berkata dengan nada dingin
disertai wajah datarnya yang menjadi idola para putri
“Sejak
kapan lo suka sama gue?”
“Udah
lama, emang menurut lo kenapa gue gapunya pacar?”
“Lah?
Emang kenapa”
“Nunggu
waktu yang tepat buat nembak lo lah”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar